RSS

Kritik Sastra; Pendekatan Psikoanalisis

Penggambaran Id, Ego, dan Superego

oleh Paulo Coelho dalam O Demonio e a Senhorita Prym

Ada sebuah legenda kuno dari Persia. Kisah akan bagaimana manusia diciptakan sebagai sekutu bagi Ahuda Mazda—putra dari Allah-waktu yang menjadi personifikasi Baik—untuk mencegah kehancuran yang diciptakan oleh saudara kembarnya, Angra Mainyu—personifikasi dari Jahat. Kisah yang menceritakan akan bagaimana perasaan menyesal yang melingkupi Allah-waktu pada saat terkabulnya doa yang ia panjatkan—entah pada eksistensi apa. Bahwa rasa cemas itu membuat justru membagi putra yang akan lahir, keberadaan yang bersemayam dalam kandungannya, menjadi dua bagian yang memperlihatkan bagaimana rapuhnya sebuah keseimbangan di alam semesta ini. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2014 in Artikel, Psikologi, Sastra (?)

 

Tag: , , ,

2. Surat untuk Ayah – Dari Putra yang Belum Anda Kenal

Saya tidak pandai menulis surat. Selama ini tak ada seorang pun yang ingin kukirimkan surat dan sampai saat ini pun tak ada seorang pun yang terlintas dalam benak saya.

Tapi Sana meminta saya. Anak itu menyuarakan ide gila untuk menulis pesan pada Anda. Pada Anda yang sudah tak ada dalam kehidupan kami. Anda tak pernah bisa hadir dalam perjalanan hidup kami.

Saya tak tahu, apakah Sana sudah menyadarinya atau belum. Namun saya tahu, bahwa Anda sudah tak ada di dunia ini. Ibu memberitahu saya, secara tidak sengaja, beberapa tahun yang lalu. Bila saya tak salah ingat, saat itu saya berusia delapan tahun. Ibu menceritakannya saat tidak sengaja dibuat mabuk oleh bibi. Dan saya belum menyatakan apa pun pada Sana sampai saat ini.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2013 in Random

 

2. Surat untuk Ayah – Dari Putri yang Bahkan Kau Tak Pernah Tahu Ada

Aku tidak mengenalmu.

Tidak mengetahui siapa namamu.

Tidak mengetahui suaramu.

Tidak mengetahui wajahmu.

Tidak mengetahui sifatmu. Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2013 in Random

 

1. Surat untuk Ibu – Dari Putrimu yang Paling Menyebalkan

Haruskah aku menuliskan sebuah sapaan hangat?

Atau kau lebih menyukai aku menuliskan pokok pembicaraan begitu saja?

Aku tidak tahu pembuka seperti apa yang akan kau sukai. Kau tahu, lantai kamar ini sudah dipenuhi oleh gumpalan kertas yang hanya berisi satu atau dua kata. Saat melihat gumapan kertas itu, apa yang akan kau pikirkan?

Rumus-rumus perhitungan baru?

Daftar-daftar zat?

Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 1, 2013 in Random

 

Kabar Dari Merpati – Pembuka

Manusia melatihku.

Bukan untuk menirukan ucapan mereka seperti yang burung beo pelajari.

Bukan untuk memasukan bola ke dalam keranjang seperti yang burung kakak tua pelajari.

Bukan untuk bernyanyi sebagai kebanyakan burung pelajari.

Manusia melatihku.

Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 1, 2013 in Kabar Dari Merpati

 

Tag: ,

So, Say It; “I Do.”

Pernikahan…
ah…
adalah hal yang paling diinginkan oleh para wanita, khususnya gadis–gadis muda yang sedang dimabuk cinta dan tidak diragukan lagi akan lebih parah tingkatannya bila berhadapan dengan ia yang sedang kasmaran dengan sang kekasih, bersikap bahwa dunia adalah milih keduanya–dan abai pada apa pun yang ada di sekitar.

Ah, tidak juga dipungkiri akan kepakan halus sayap kupu-kupu yang menggelitik dinding lambung dalam, memberi rasa hangat dan tidak diragukan lagi akan membuat setiap kaum hawa menyunggingkan senyuman tanpa komando, secara tidak sadar berusaha mengalihkan perhatian dari sorot mata sang pasangan–sekali pun sesungguhnya ia ingin melihat ke dalam sepasang bola mata yang tertuju padanya, bola mata penuh ketulusan dan sebuah cincin emas putih yang bersiap melingkar di jari manis tangan kiri sang wanita.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 10, 2012 in Random, Say It; "I Do."

 

Tag: , ,

Another One

Another One

Menengadahkan kepala kau menatap gugusan kapas berwarna kelabu yang menutupi langit biru dari penglihatan. Mempererat cengkramanmu pada tali tas, kau berpikir bahwa ada baiknya bila kau berlindung di halte sampai hujan yang hendak mengguyur jalan beraspal ibu kota Jakarta berhenti.

Selanjutnya kau bertanya dengan cara apa kau bisa berdiri tepat di belakang antrian dengan secarik tiket masuk di tanganmu. Sama sekali tidak ada ingatan bahwa kau pernah meninggalkan ruang kelas.

Dalam ingatanmu, ingatan paling akhir dan baru yang kau miliki, kau tengah duduk diam di bangku paling belakang sendiri. Menunggu sampai yang lain tiba dan bel masuk berbunyi. Namun yang kau temui kali ini adalah kenyataan bahwa kau tengah berdiri menunggu bus berikutnya untuk pulang. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 11, 2012 in Cerpen

 

Tag: , ,

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 700 pengikut lainnya